Seni dan Desain dengan Kecerdasan Buatan: Kini dan Nanti

Akankan kreatifitas manusia dalam menciptakan produk dengan keindahan dapat tergantikan oleh kecerdasan buatan?

Manusia dianugerahi akal dan kemampuan berpikir yang sangat luar biasa. Berdasarkan modal ini, manusia mampu berinovasi dalam segala aspek kehidupannya. Tidak hanya berupaya untuk memenuhi kebutuhan primer seperti makhluk di muka bumi lainnya, namun juga mengefisiensikan cara pemenuhannya. Hal ini kemudian memungkinkan manusia untuk memenuhi kebutuhan sekunder dan tersiernya, termasuk kebutuhan akan keindahan.

Seni, dalam segala bentuknya, telah dipraktikkan oleh hampir seluruh budaya manusia dan dapat dianggap sebagai salah satu karakter penentu dari spesies manusia. Studi menjelaskan bahwa potensi neurologis untuk menciptakan karya seni, telah terbentuk bahkan sebelum Homo sapiens meninggalkan Afrika [1]. Manusia sebagai makhluk seni adalah pencipta keindahan sekaligus penikmat dari keindahan itu sendiri [2].

Dalam perkembangannya, istilah seni dan desain sering kali digunakan bergantian, layaknya sebuah sinonim. Padahal sebenarnya, kedua istilah ini memiliki makna yang berlainan. Dalam interviewnya di tahun 1974, Milton Glaser mengemukakan bahwa ketika desain harus mampu menyampaikan informasi tertentu, “fungsi utama” dari seni ialah untuk “menekankan persepsi realita dari seseorang (seniman, red)” [3].

Memanfaatkan Kecerdasan Buatan

Kita menyebut diri kita sebagai Homo sapiens — frasa Latin dengan arti: orang yang bijaksana — karena kecerdasan kita sangatlah penting. Selama ribuan tahun, kita telah mencoba memahami bagaimana cara kita berpikir [4]. Dan saat ini, dengan bantuan alat komputasi, kita mencoba mengimplementasikan cara berpikir dan bertindak secara manusiawi dan rasional dalam bidang ilmu pengetahuan yang bernama Kecerdasan Buatan.

Salah satu hal yang menjadi tantangan dalam penerapan Kecerdasan Buatan dalam bidang seni dan desain ialah meniru aspek kreatif manusia untuk menciptakan karya seni dan desain yang keindahannya dapat diterima oleh manusia.

Kecerdasan Buatan dalam Bidang Seni

Hingga saat ini, telah banyak percobaan yang berhasil mengimplementasikan Kecerdasan Buatan untuk memproduksi karya seni murni, mulai dari musik, lukisan, hingga karya sastra. Banyak diantaranya memanfaatkan Machine Learning dan Neural Network, dengan mempelajari karya yang sudah ada hasil ciptaan para maestro, dan kemudian mencoba membuat sebuah karya seni baru berdasarkan hasil pembelajarannya.

 

Contoh Karya Seni Lukis dari Kecerdasan Buatan:

Lukisan dari Kecerdasan Buatan
Contoh Karya seni yang dihasilkan oleh Kecerdasan Buatan dengan Creative Adversarial Networks (CAN). Sumber dari Art and Artificial Intelligence Laboratory, Rutgers University 

Untuk informasi lebih lanjut mengenai lukisan ini: Generating “art” by Learning About Styles and Deviating from Style Norms

 

Contoh Karya Seni Musik dari Kecerdasan Buatan:

Music of David Cope and Experiments in Musical Intelligence

Kecerdasan Buatan dalam Bidang Desain

Di bidang desain, salah satu yang mencoba mengimplementasikan Kecerdasan Buatan, khususnya desain web, ialah The Grid.

Contoh desain web:

Website ɅUGMΞNTL
Website ɅUGMΞNTL dihasilkan oleh Kecerdasan Buatan.

Website lainnya : Example Sites

Tantangan pada implementasi Kecerdasan Buatan dalam bidang desain ialah, harus memperhatikan konten yang akan disajikan agar tetap informatif. Beberapa contoh yang ada sudah cukup untuk membuktikan bahwa Kecerdasan Buatan dapat digunakan untuk mengotomatisasi desain. Namun, belum cukup untuk sampai pada level setara dengan hasil desain tingkat lanjut yang dibuat oleh manusia.

Tentu saja hal tersebut dapat dicapai dikemudian hari dengan mengombinasikan banyak bidang ilmu, mulai dari psikologi hingga neuroscience ke dalam model kognitif estetika yang dapat digunakan oleh Kecerdasan Buatan untuk membentuk algoritma yang merevolusi desain dalam koridor yang sesuai dengan model kognitif tersebut [5].


Narasi ini merupakan tugas dari mata kuliah Kecerdasan Buatan [IK460] mengenai AI masa kini dan AI masa depan.


Referensi

  1. ^ Morriss-Kay, G. M. (2010), The evolution of human artistic creativity. Journal of Anatomy, 216: 158–176. doi:10.1111/j.1469-7580.2009.01160.x Diakses pada 13-09-2017 dari https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC2815939/.
  2. ^ Nanuru, R. F. (t.thn.), YOUTUBE, Seni Berwawasan Teknologi Modern. Journal UNIERA. Diakses pada 13-09-2017 dari http://journal.uniera.ac.id/pdf_repository/juniera41-cSmN9OlUxdTyk8G6Uwo1RoWsz.pdf.
  3. ^ Brady, Michael (1998), Art and Design: What’s the Big Difference?. Critique Magazine. Diakses pada 13-09-2017 dari http://www.michaelbradydesign.com/Blog/?p=1922.
  4. ^ Russell, Stuart dan Peter Norvig (2009). Artificial Intelligence: A Modern Approach (3rd ed.). Prentice Hall Press: Upper Saddle River, NJ, USA.
  5. ^ Anjin (2016). Komentar pada Finally got to see thegrid.io sites. I think your jobs are safe. Diakses pada 13-09-2017 dari https://www.reddit.com/r/web_design/comments/49djg6/finally_got_to_see_thegridio_sites_i_think_your/d0ra5t7/.

Author: M Ammar Fadhlur Rahman

Terlahir di Bandung 21 tahun lalu, kini Ammar tengah menempuh tahun ketiganya di Program Studi Ilmu Komputer, Universitas Pendidikan Indonesia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *